Senin, 20 Mei 2013

Idealis, angel or demon?


Kembali
Kembali tersudutkan pada posisi seperti ini berulang-ulang dalam situasi yang berbeda
Mengapa terus menghinggapiku?

Entah darimana awalnya pemikiran seperti ini tumbuh dalam diri saya
Mungkin karena faktor lingkungan yang mendominasi
Mungkin bukan karena disekeliling saya adalah orang-orang yang seperti itu
Namun lebih tepatnya karena terpaan tantangan hidup yang membuat saya mempunyai pemikiran seperti ini

Idealis!
Ya itu pemikiran saya
Lebih tepatnya dinamakan pemikiran karena itu memang berada dalam pemikiran (dulunya) dan seiring sejalan, pemikiran ini pun terimplementasikan juga
Namun saya tetap beranggapan bahwa keidealisan ini adalah sebuah pemikiran

Saya dulu tak tahu bahwa hal yang sudah saya lakukan dari kecil adalah sebuah keidealisan,
Saya tahu kata idealis berasal dari Buku Sejarah yang sedang menceritakan tokoh NAZI bernama Adolf Hitler
Setelah disingkronisasikan dengan pemikiran saya ternyata amat sangat cenderung idealis.
Wow!

Saya menilai apa yang saya lakukan sesuai dengan visi dan cara pandang saya
Bahkan saya tak peduli bila saya akan cape sendiri, raga dan tenaga bahkan pikiran saya akan amat terporsir sekalipun
Bahkan saya tak peduli seberapa jauh saya harus berjalan hingga berlari dan telah terjatuh hingga tertatih sekalipun
Dan saya amat sangat tak peduli sekalipun saya harus kehilangan harta atau nyawa sekalipun untuk mencapai  obsesi dan rencana yang telah saya susun dengan matang
Semua demi satu kata : Kesuksesan!

Kesuksesan yang diraih itu dinilai secara subjektif menurut keidealan saya
Maka dari itu saat saya masih SD dan SMP keidealisan ini cenderung egois
Meski saya tahu itu hanya akan membuat tekanan pada diri saya tapi saya tak peduli yang terpenting ini harus sesuai

Saat saya SMA dan diarahkan diberbagai organisasi dan saya ditempatkan dibeberapa acara yang menjadikan saya sebagai Ketua Pelaksana, disinilah keidealisan saya teruji
Saya yang terbiasa menekan diri saya sendiri untuk push over limit kini saya disudutkan untuk menuntut anggota saya untuk seperti itu jelas itu tidak bijaksana
Saya tidak bisa sewenang-wenang pada orang lain, saya tidak berhak memposisikan orang lain menjadi saya
Kesewenangan atau keidealisan itu hanya berlaku pada diri saya

Disana saya mulai belajar menghargai pendapat orang lain
Saya yang tipikal orang yang selalu mendewakan ide saya dan menganggap yang lain hanya sekedar pelaksana dari ide saya, kini sudah mulai open minded
Namun lagi-lagi terpatri pada sosok idealisme ini
Terkekang karena saya harus mengorganisasikan setiap divisi-divisi bagian kegiatan tetapi diarahkan pada indikator keberhasilan menurut si Idealis ini

Dan sekarang sama
Bagi yang lain kesuksesan suatu acara berdasarkan berapa besar keuntungan yang diraih, seberapa banyak partisipan yang mengikuti
Tapi bagi si Idealis ini hal itu bukan bagian dari indikator keberhasilan, hal itu merupakan bonus
Indikator keberhasilan adalah bagaimana kita bisa mengemas acara dengan seapik mungkin, sesama anggota saling terkait dan solid dan partisipan dapat menangkap acara yang telah digagas, having meaning
Ya itu sudah cukup bahkan lebih bagi si Idealis
Namun mayoritas menuntut lain dan si minoritas idealis ini pun tertunduk
Bukan karena tak dapat mempertahankan tetapi galau yang diarahkan pada realita yang ada dan tuntutan pihak mayoritas
Meski si minoritas idealis ini pemimpin sekalipun tetapi jika mayoritasnya yang beranggapan seperti itu adalah anggotanya, berpura-pura bijaksana demi amankan wilayah bukanlah record si idealis

Aarrrgggghhhhh.....!
Ingin sekali lepas dari belenggu keidealisan ini, namun tak bisa dan memang tak terlalu ingin lepas
Bukankah hidup didunia ini yang hanya sekali ini adalah mencari kebahagiaan?
Jika mengikuti zona aman namun tak bahagia untuk apa?
Menuruti jalur hidup mayoritas tapi sengsara, lebih baik menjalankan jalan minoritas ini dengan kebahagiaan
Ya, indikator kebahagiaan menurut si Idealis

Kembali
Kembali pada keadaan seperti ini
Idealis yang bagai angel yang menyinari jiwa sekaligus demon yang menggerogoti tubuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...