Kembali
Kembali tersudutkan
pada posisi seperti ini berulang-ulang dalam situasi yang berbeda
Mengapa terus
menghinggapiku?
Entah darimana
awalnya pemikiran seperti ini tumbuh dalam diri saya
Mungkin karena
faktor lingkungan yang mendominasi
Mungkin bukan karena
disekeliling saya adalah orang-orang yang seperti itu
Namun lebih tepatnya
karena terpaan tantangan hidup yang membuat saya mempunyai pemikiran seperti
ini
Idealis!
Ya itu pemikiran
saya
Lebih tepatnya
dinamakan pemikiran karena itu memang berada dalam pemikiran (dulunya) dan
seiring sejalan, pemikiran ini pun terimplementasikan juga
Namun saya tetap
beranggapan bahwa keidealisan ini adalah sebuah pemikiran
Saya dulu tak tahu
bahwa hal yang sudah saya lakukan dari kecil adalah sebuah keidealisan,
Saya tahu kata
idealis berasal dari Buku Sejarah yang sedang menceritakan tokoh NAZI bernama
Adolf Hitler
Setelah
disingkronisasikan dengan pemikiran saya ternyata amat sangat cenderung
idealis.
Wow!
Saya menilai apa
yang saya lakukan sesuai dengan visi dan cara pandang saya
Bahkan saya tak
peduli bila saya akan cape sendiri, raga dan tenaga bahkan pikiran saya akan
amat terporsir sekalipun
Bahkan saya tak
peduli seberapa jauh saya harus berjalan hingga berlari dan telah terjatuh
hingga tertatih sekalipun
Dan saya amat sangat
tak peduli sekalipun saya harus kehilangan harta atau nyawa sekalipun untuk
mencapai obsesi dan rencana yang telah
saya susun dengan matang
Semua demi satu kata
: Kesuksesan!
Kesuksesan yang
diraih itu dinilai secara subjektif menurut keidealan saya
Maka dari itu saat
saya masih SD dan SMP keidealisan ini cenderung egois
Meski saya tahu itu
hanya akan membuat tekanan pada diri saya tapi saya tak peduli yang terpenting
ini harus sesuai
Saat saya SMA dan
diarahkan diberbagai organisasi dan saya ditempatkan dibeberapa acara yang
menjadikan saya sebagai Ketua Pelaksana, disinilah keidealisan saya teruji
Saya yang terbiasa
menekan diri saya sendiri untuk push over limit
kini saya disudutkan untuk menuntut anggota saya untuk seperti itu jelas
itu tidak bijaksana
Saya tidak bisa
sewenang-wenang pada orang lain, saya tidak berhak memposisikan orang lain
menjadi saya
Kesewenangan atau
keidealisan itu hanya berlaku pada diri saya
Disana saya mulai
belajar menghargai pendapat orang lain
Saya yang tipikal
orang yang selalu mendewakan ide saya dan menganggap yang lain hanya sekedar
pelaksana dari ide saya, kini sudah mulai open
minded
Namun lagi-lagi
terpatri pada sosok idealisme ini
Terkekang karena
saya harus mengorganisasikan setiap divisi-divisi bagian kegiatan tetapi
diarahkan pada indikator keberhasilan menurut si Idealis ini
Dan sekarang sama
Bagi yang lain
kesuksesan suatu acara berdasarkan berapa besar keuntungan yang diraih,
seberapa banyak partisipan yang mengikuti
Tapi bagi si Idealis
ini hal itu bukan bagian dari indikator keberhasilan, hal itu merupakan bonus
Indikator
keberhasilan adalah bagaimana kita bisa mengemas acara dengan seapik mungkin,
sesama anggota saling terkait dan solid dan partisipan dapat menangkap acara
yang telah digagas, having meaning
Ya itu sudah cukup
bahkan lebih bagi si Idealis
Namun mayoritas
menuntut lain dan si minoritas idealis ini pun tertunduk
Bukan karena tak
dapat mempertahankan tetapi galau yang
diarahkan pada realita yang ada dan tuntutan pihak mayoritas
Meski si minoritas
idealis ini pemimpin sekalipun tetapi jika mayoritasnya yang beranggapan
seperti itu adalah anggotanya, berpura-pura bijaksana demi amankan wilayah
bukanlah record si idealis
Aarrrgggghhhhh.....!
Ingin sekali lepas
dari belenggu keidealisan ini, namun tak bisa dan memang tak terlalu ingin
lepas
Bukankah hidup
didunia ini yang hanya sekali ini adalah mencari kebahagiaan?
Jika mengikuti zona
aman namun tak bahagia untuk apa?
Menuruti jalur hidup
mayoritas tapi sengsara, lebih baik menjalankan jalan minoritas ini dengan
kebahagiaan
Ya, indikator
kebahagiaan menurut si Idealis
Kembali
Kembali pada keadaan
seperti ini
Idealis yang bagai angel yang menyinari jiwa sekaligus demon yang menggerogoti tubuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar