"Melupakan
adalah seni untuk mengingat"
Ya, seseorang pernah
mengatakan hal itu kepadaku.
Dan kusengajai
diriku untuk melupakan agar ku selalu mengingatnya.
Mengingat betapa
bodohnya ku menyia-nyiakan dirinya dulu.
Yang kini ku amat
sesali.
Entah dari mana ini
bermula dan berawalnya, tak pernah ku tahu.
Yang ku ingat ini
hanya karena affection yang mungkin
tanpa maksud apapun, tapi mengapa begitu berbekas dan mendalam.
Sejak saat itu rasa
cemas selalu menghantui di tengah malam.
Rasa rindu mulai
menghasut pikiran, mencoba meraih handphone,
mencari namanya di kolom chatting, lalu
seketika ingin mengetik, "Malam.."
Ah.. Ini sudah gila,
batinku. Ku hapus itu semua. Ku lempar handphone-ku
ke bantal.
Jangan gila. Jangan
sampai melakukan itu. Ku tegaskan diri ini berulang kali.
Ku hela nafas
panjang. Ku berfikir bahwa ini mungkin hanya perasaan sesaat.
Perasaan karena
didera rasa sepi dan bersalah secara bersamaan.
Ku yakini ini
berulang-ulang agar terpatri dalam ingatan.
Tetapi makin lama
justru makin bergejolak.
Entah darimana
datangnya, padahal berkomunikasi sudah amat jarang bahkan tak pernah dilakukan.
Bertemu pun sudah tidak pernah terjadi.
Lalu mengapa
bayang-bayang dia selalu ada, seakan memori indah yang singkat itu menyapa
kembali dan meminta untuk diulang.
Aku sudah tidak
punya kendali pada perasaanku sendiri.
"Ungkapkanlah,
nyatakanlah."
Tetiba ide gila itu
merasuk.
Gila! Ku memaki
diriku sendiri. Cari mati!
Untuk apa, untuk apa
melakukannya.
Bagaimana jika dia
telah bahagia menjalani kehidupannya sekarang tanpa bayang diriku lagi.
Bagaimana jika dia
telah memiliki seseorang yang tak akan melukainya seperti yang pernah ku
lakukan.
Bagaimana jika dia
telah menata hatinya untuk benar-benar melupakanku.
Lalu bagaimana
dengan aku? Sungguh rasa ini sudah dipuncak kegilaan.
Ya, ini adalah
hukuman , maka rasakanlah!
Sial! Sial! Ya, aku
pantas mendapatkannya.
Jadi ku sengaja
membuat diriku sendiri terluka.
Terluka akan
pahitnya menahan rindu yang tak pernah bisa diungkapkan.
Terluka akan
getirnya hati yang meraung ingin berkata cinta.
Terluka akan
sedihnya rasa bersalah yang merasa tak pantas untuk dimaafkan.
Jika saja ada
kesempatan untuk mengungkapkannya.
Ah..jangan pernah
berpikir seperti itu.
Biar saja,
biarkanlah ini sebagai penebus dosa.
Yang bahkan tidak
ada apa-apa dibanding sakit yang dia rasakan dulu.
Dia pantas bahagia,
atau mungkin dia telah bahagia dan sudahlah jangan mengungkit dan kembali ke
kehidupannya.
Jangan tawar hatinya
lagi.
Jangan
menggoyahkannya lagi.
Jangan membuatnya
terluka lagi.
Sudah diri ini saja
yang sengaja terluka.
Karena kesempatan
itu sudah tak ada lagi.
Cinta sudah lewat.
Dan sudah menjadi
sejarah.
Yang tak kan pernah
terulang lagi.
Sebab sudah tak ada
lagi ruang untukku didirinya.
"...karena hal
yang paling menyakitkan adalah dilupakan oleh seseorang yang tidak bisa kita
lupakan.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar