Senin, 08 Oktober 2018

Sengaja Terluka


"Melupakan adalah seni untuk mengingat"
Ya, seseorang pernah mengatakan hal itu kepadaku.
Dan kusengajai diriku untuk melupakan agar ku selalu mengingatnya.
Mengingat betapa bodohnya ku menyia-nyiakan dirinya dulu.
Yang kini ku amat sesali.

Entah dari mana ini bermula dan berawalnya, tak pernah ku tahu.
Yang ku ingat ini hanya karena affection yang mungkin tanpa maksud apapun, tapi mengapa begitu berbekas dan mendalam.
Sejak saat itu rasa cemas selalu menghantui di tengah malam.
Rasa rindu mulai menghasut pikiran, mencoba meraih handphone, mencari namanya di kolom chatting, lalu seketika ingin mengetik, "Malam.."
Ah.. Ini sudah gila, batinku. Ku hapus itu semua. Ku lempar handphone-ku ke bantal.
Jangan gila. Jangan sampai melakukan itu. Ku tegaskan diri ini berulang kali.

Ku hela nafas panjang. Ku berfikir bahwa ini mungkin hanya perasaan sesaat.
Perasaan karena didera rasa sepi dan bersalah secara bersamaan.
Ku yakini ini berulang-ulang agar terpatri dalam ingatan.
Tetapi makin lama justru makin bergejolak.
Entah darimana datangnya, padahal berkomunikasi sudah amat jarang bahkan tak pernah dilakukan. Bertemu pun sudah tidak pernah terjadi.
Lalu mengapa bayang-bayang dia selalu ada, seakan memori indah yang singkat itu menyapa kembali dan meminta untuk diulang.
Aku sudah tidak punya kendali pada perasaanku sendiri.

"Ungkapkanlah, nyatakanlah."
Tetiba ide gila itu merasuk.
Gila! Ku memaki diriku sendiri. Cari mati!
Untuk apa, untuk apa melakukannya.
Bagaimana jika dia telah bahagia menjalani kehidupannya sekarang tanpa bayang diriku lagi.
Bagaimana jika dia telah memiliki seseorang yang tak akan melukainya seperti yang pernah ku lakukan.
Bagaimana jika dia telah menata hatinya untuk benar-benar melupakanku.
Lalu bagaimana dengan aku? Sungguh rasa ini sudah dipuncak kegilaan.
Ya, ini adalah hukuman , maka rasakanlah!

Sial! Sial! Ya, aku pantas mendapatkannya.
Jadi ku sengaja membuat diriku sendiri terluka.
Terluka akan pahitnya menahan rindu yang tak pernah bisa diungkapkan.
Terluka akan getirnya hati yang meraung ingin berkata cinta.
Terluka akan sedihnya rasa bersalah yang merasa tak pantas untuk dimaafkan.

Jika saja ada kesempatan untuk mengungkapkannya.
Ah..jangan pernah berpikir seperti itu.
Biar saja, biarkanlah ini sebagai penebus dosa.
Yang bahkan tidak ada apa-apa dibanding sakit yang dia rasakan dulu.
Dia pantas bahagia, atau mungkin dia telah bahagia dan sudahlah jangan mengungkit dan kembali ke kehidupannya.
Jangan tawar hatinya lagi.
Jangan menggoyahkannya lagi.
Jangan membuatnya terluka lagi.
Sudah diri ini saja yang sengaja terluka.
Karena kesempatan itu sudah tak ada lagi.
Cinta sudah lewat.
Dan sudah menjadi sejarah.
Yang tak kan pernah terulang lagi.
Sebab sudah tak ada lagi ruang untukku didirinya.

"...karena hal yang paling menyakitkan adalah dilupakan oleh seseorang yang tidak bisa kita lupakan.."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...