Rasa terkekang itu
pasti sering dirasakan oleh seorang anak yang terpasung berbagai aturan oleh
orang tuanya sendiri. Over Protected dan menganggap dunia luar tak baik untuk
dirimu.
Sejak kecil, saya
tak pernah bermain dengan teman sebaya. Doktrin Ibu terlalu kuat.
Kalau ada yang
kerumah ajak main, Ibu selalu bilang " Ennonya lagi tidur, lain kali saja
maennya , ya.." atau "Ennonya lagi belajar,besok kan ulangan"
Padahal waktu itu
saya tak lagi tidur dan sedang menonton
TV.
Disekolah, Ibu
selalu bawakan makan dan minum dari rumah. Lalu Ibu bilang "Nanti kalau
ada teman yang minta minum jangan dikasih, bakteri kuman dari mereka nanti
masuk ke kamu. Nanti kamu sakit"
Saya menurut saja.
Alhasil, saya dijuluki si pelit. Dan teman-teman menjauhi saya. Hingga
puncaknya dikelas 4 SD saya di bullying abis-abisan oleh teman-teman saya.
Disebut pelit air,
saya ranking 1 karena orang tua saya nyogok ke guru -Ibu saya dekat dengan para
guru, disinyalir ada tindakan suap (WEIRD)-
Sungguh saya sakit
hati dan saya hanya bisa diam, mereka mengancam akan menantang saya karena
kakak-kakak mereka jauh lebih tua dari pada kakak saya, kakak mereka sudah SMA,
kuliah bahkan sudah berkeluarga. Sementara kakak saya baru duduk di kelas 2
SMP.
Saya tak melawan.
Lalu saya bilang ke Ibu.
Ibu hanya mengatakan
"Yasudah, tak usah capek-capek lawan mereka. Mereka hanya sirik. Anak Ibu
ini memang pintar kok, jadi ngapain Ibu nyogok, hahaha" Ujar Ibu sambil
tertawa renyah.
Entah kenapa
kata-kata Ibu itu menyejukkan.
Dari sana saya tahu
bahwa hal yang dilakukan Ibu itu benar dan tepat.
Tak apa tak
mempunyai teman juga kalau hanya memperdaya dan membuat saya menjadi anak
nakal.
Ibu tak pernah
secara eksplisit mengatakan maksud beliau apa mengatakan hal tersebut.
Namun pada akhirnya
saya tahu sendiri apa manfaatnya itu semua.
Kadang harus merasa
tersiksa terlebih dahulu untuk sebuah kebaikkan.
Masa lalu yang
menyakitkan tinggalkan saja, I'm new born strong woman ever :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar