Kamis, 12 September 2019

Kembalinya Kompleksitas


Bulan 9 tahun 2019
Sudah hampir 8 bulan lamanya tidak lagi menuliskan sesuatu disini
Mungkin masih menulis namun beberapa hanya tersimpan rapi didalam draft, tanpa tahu kapan akan diunggah
Atau mungkin saja tidak ditulis, hanya terdiam dalam pikiran yang kemudian dibiarkan menguap begitu saja.

Ya, begitulah mungkin aku di tahun ini
Serasa begitu lelah akan banyak hal tetapi tidak melakukan apa-apa
Seperti kehilangan minat dan ketertarikan akan apapun

Hidup segan mati tak mau

Seperti itulah penggambaranku saat ini
Dan kini aku sangat rindu, tengah merindu
Dia, ya, dia..

Seseorang yang begitu gigih dan tekun akan mimpinya
Bahkan dia begitu rajin menuliskan apa yang akan dia lakukan setiap harinya di buku catatan
Dia tidak ingin membiarkan sehari dalam hidupnya dihabiskan untuk tidak produktif
Dia rajin ke toko buku, membeli beberapa alat tulis dan buku catatan, bahkan dia menuliskan jadwal belajar setiap harinya, lengkap dengan jam dan durasi
Padahal dia telah lulus kuliah, yang mungkin kebanyakan orang memilih untuk fokus untuk bekerja dan menghasilkan uang ketimbang harus belajar kembali
Namun tidak dengannya, dia membuat daftar belajar bahasa yang sedang ingin dia kuasai, salah satunya sebagai modal dia untuk melanjutkan mimpinya, ya mimpi untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri
Selain itu, dia pun menuliskan jadwal belajar tentang program studi yang akan digeluti untuk studinya nanti, katanya sebagai persiapan sehingga jika nanti dia telah menjadi mahasiswa sana, dia sudah siap dengan segalanya.

Sebegitu ambisius dan visionernya dia.

Dia pun membuat target untuk 1 bulan 1 buku, dia harus membaca setidaknya minimal 1 buku setiap bulannya, entah itu buku apa, bisa novel, biografi, motivasi, atau yang lainnya
Selain itu terdapat target 1 minggu 1 jurnal, dia ingin membaca lalu menafsirkan dan mempelajari jurnal penelitian karena salah satu passion-nya yaitu di bidang penelitian.

Namun kini dia telah pergi, atau tepatnya dia tertidur.

Dia adalah seseorang yang kini sangat kurindukan
Ayo bangun, dimana kamu sekarang?!
Tidakkah dia melihat bahwa jadwal yang dia tulis itu kini hanya sekedar tempelan di tembok?
Tidakkah dia melihat bahwa alat-alat tulis yang dia siapkan itu kini hanya tersimpan di laci?
Buku catatan itu pun hanya kosong tanpa isi
Buku-buku tebal hanya bertumpuk tinggi di meja tanpa ada yang menyentuh
Ayo bangun, ayo lakukan lagi!

Sudah cukup tertidurnya, jangan diam saja!
Asa ini harus dikobarkan kembali
Perlu untuk dibangkitkan kembali

Hm, aku sungguh merindukannya
Tanpanya, aku hanya sebuah tubuh yang ringkih dan sakit
Tanpanya, aku hanya hidup dan berjalan tak ada tujuan
Tanpanya, aku hanya menunggu hingga waktu habis dan terbuang percuma
Aku sungguh butuh dia, sangat butuh dia

Mungkin dia memilih tidur atau bisa saja lari dariku karena dia telah muak
Muak akan aku yang sebegitu mudahnya menyerah
Dia marah padaku yang telah berani berkata, "ah sudahlah, waktu kita terbatas, kita tak akan bisa meraihnya, menggapainya, lebih baik jalani saja yang ada!"
Dia berjalan mundur hingga lama-lama lenyap dari pandanganku

Seandainya dia tahu bahwa aku memutuskan menyerah bukan karena aku tak ingin lagi bersamanya dalam meraih mimpi itu, namun karena aku tahu bahwa segala hal yang diupayakan ini hanya akan berakhir dengan luka dan kepahitan, dan malah justru semakin melukainya, karena dia yang paling bersemangat atas semua ini
Dan memang iya, dia sangat terluka, hingga bahkan tak mau lagi melihatku yang kini sudah semakin tak berdaya
Yang bisa kulakukan adalah merindukannya, merindukan saat kita berdua sama-sama berpeluh letih namun tersenyum saat satu-satu tahap menuju mimpi itu semakin nyata
Itu sangat indah dan membahagiakan
Aku tak tahu apakah momen itu dapat terulang kembali
Apakah dia mungkin akan kembali lagi
Entah untuk melanjutkan mimpi ini, atau sekedar untuk menemaniku kembali
Namun apapun itu, aku akan selalu menunggunya
Menunggu dia kembali dengan segala kompleksitasnya
Yang terkadang membuatku lelah dan keteteran mengikutinya, namun asal itu dilakukan bersama, sungguh semuanya terasa ringan dan tentu membahagiakan.

Ya, aku masih disini dan tak akan kemana-mana
Menunggunya datang dengan senyumnya dan matanya yang penuh dengan semangat
Kompleksitasnya yang memenuhi pikiranku kembali

Terakhir,
Aku rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...