Senin, 30 Desember 2019

Satu-satunya bukan nomor satu

Apa yang akan dilakukan jika hanya mempunyai sesuatu namun hanya satu-satunya didunia ini?
Menjaganya, melindunginya, menyayanginya, mencintainya, tak akan mengacuhkannya dan membiarkannya, atau bahkan selalu disisinya, bukan?

Itu yang biasanya dilakukan namun tidak dengan ini.
Satu-satunya maka dibiarkan satu saja.
Didiamkan dan berdiri dengan dirinya sendiri.
Meski telah berteriak ingin ditemani, tapi pada kenyataannya memang satu maka sendirilah dia.

Dia hanya berdiri di titian sepi, bertemankan sunyi.
Mana yang katanya jika menjadi satu-satunya akan diperlakukan diatas segalanya?
Mungkin itu berlaku di yang lain tapi tidak dengan ini.
Mau tak mau akhirnya membiasakan dengan ini semua.
Berdiri diatas kakinya sendiri.
Hingga akhirnya lelah dan butuh bersandar, tetapi terus menerus dibiarkan sendiri.
Katanya kan sudah biasa sendiri dan kuat, maka pasti bisa menghadapinya.
Baiklah. Satu ini pun tertunduk dan kembali berdiri di atas kakinya.

Terkadang si satu ini merasa apakah dia diharapkan?
Apakah dia pernah dipedulikan?
Apakah setidakberartinya si satu ini hingga jika tak ada pun sebenarnya tak apa-apa?

Oh tidak.. tidak..
Kini si satu yang dulu diacuhkan, diangkat kembali
Dibuat seolah dia memang satu-satunya, diperlakukan layaknya nomor satu
Namun itu layaknya, nyatanya dia hanya pengganti
Karena kini si "nomor satu" ingin lepas dari segalanya

Bedakan "si satu" dan "nomor satu"
Si satu : dia memang satu-satunya
Nomor satu : dia bukan satu-satunya, tapi diutamakan, karena apa? karena dia nomor satu

Kembali lagi ke persoalan menjadi pengganti
Kini si satu menjadi pengganti, seolah nomor satu padahal itu hanya palsu
Dia hanya terbebani oleh tugas-tugas yang seolah sudah selesai namun belum
Bertanggungjawab akan sesuatu hal yang sebenarnya bisa dikelola bersama namun malah dilimpahkan pada si satu ini
Mengapa? karena dia terbiasa akan hal itu, terbiasa sendiri, berdiri diatas kakinya sendiri, meski telah berteriak menjelaskan ini dan itu namun hanya empati sementara yang hanya untuk meredam saja

Huft.. tarik nafas dan hembuskan perlahan..
Apakah ini takdir atau nasib? entahlah
Padahal si satu ini telah melakukan segalanya dengan terbaik (menurutnya) untuk "dapat diakui"
Untuk dapat menjadi "nomor satu" dalam arti sebenarnya
Kurang apa? Kurang keras bagaimana? Harus seperti apa?

Apa mau ikut-ikutan lari seperti nomor satu?
Ah.. untuk kali ini si satu mengatakan "TIDAK!"
Si satu bukanlah seperti si nomor satu itu
Dia memiliki nilai sendiri, lari dan menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya
Lantas mau sampai kapan seperti itu?
Sampai jadi debu?

Miris.. 
Miris..
Kasihanilah si satu ini,
dia sudah cukup lama berdiri sendiri
tak adakah yang ingin coba mengertinya bahkan sekali
sesungguhnya dia telah muak menjadi pilihan kedua, menjadi pengganti
dia ingin menjadi dia yang diakui, bukan dinomorduakan meski dia adalah si satu

Ya, sebab satu-satunya ini bukanlah nomor satu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...