Senin, 07 Januari 2019

Sepintas Rasa Ingin

"Hoaaammm!" Ku menguap beberapa kali dengan mata yang sudah tinggal satu titik lagi meminta untuk merapat. Ku raih handphone dan terlihat sudah pukul 3.30 pagi. Sebentar lagi adzan subuh dan aku masih berkutat di depan laptop dengan setumpuk kertas coret-coret dari pembimbing. Ku melihat sekeliling sepertinya kafe tempat aku berada akan segera tutup. Sudah tinggal 5-6 orang lagi di kafe itu. Entah berapa minuman dan mangkok mie instant yang aku habiskan hingga pagi ini. Lekas ku beres-beres dan memasukkannya kedalam tas.

Ku mulai memesan ojek online untuk pulang ke kosan dan akhirnya dapat. Karena tempat kafe itu cukup terkenal jadi tidak perlu waktu lama untuk aku menunggu.
"Baru selesai, dek?" Ucap Abang Ojek.
"Iya, bang." Ucapku sambil memakai helm dan naik ke atas motor.
"Lagi skripsian ya, dek?"
"Iya, bang." Aku udah ga fokus karena sebenarnya sudah sangat mengantuk.
"Temennya yang lain mana, dek?"
"Sendirian, bang, skripsi bukan tugas kelompok jadi ngerjainnya sendiri."
"Ya siapa tahu mau bareng-bareng ngerjain sama temen kan bisa tukar pendapat, hehe."
"Temen-temen saya sudah pada lulus, bang."
"Oh, begitu, ah maaf ya, dek."
Si Abang Ojol minta maaf kayak hal itu adalah hal yang duka padahal iya sih duka tapi sekarang sudah santai aja.
"Ah, ga apa-apa, bang, slow aja."

Aku pun turun dari ojol dan segera menuju kosan. Sampai kamar, aku simpan tas dan langsung rebahan diatas kasur lantaiku tanpa cuci muka, cuci kaki, aku ingin segera terlelap. Lalu selang berapa lama alarm handphone berbunyi pukul 4.30 pagi dengan tulisan "SUBUH WOY!!". Ngga kalem banget mungkin biar bangun untuk shalat subuh. Ku masih ngulet-ngulet diatas kasur, berat banget, rasanya baru 15 menit pejamkan mata, tapi kalau tidur lagi alamat ga akan subuh.

"Setan emang kuat banget godaannya, tapi manusia ga boleh kalah!" Aku mencoba memotivasi diri untuk bangun, wudhu, dan shalat. Setelah selesai semuanya, aku mengambil handphone dan cek medsos mulai instagram, twitter, whatsapp story, dan line. Tidak ada chatting atau kalimat penyemangat dari orang lain. Yasudah bodo amat, langsung charger handphone dan berusaha membayar tidur.

Namun rasa kantuk yang asalnya dahsyat itu mendadak hilang seketika dan hanya bergulang-guling diatas kasur tipisku. Apa aku kegerahan ya, tanyaku. Lalu ku nyalakan kipas angin. Ah matikan lampu saja, toh udah subuh. Namun tetap saja kantuk itu hilang dan menguap tanpa sisa. Dan ku mulai berkontemplasi mengingat apa yang dilakukan seharian kemarin.

Bangun pagi, mandi, makan, ke perpus, lanjut ngafe cari yang 24 jam atau yang bisa sampai larut buat lanjut ngeskripsi, karena kalau ngerjain di kosan bawaannya suntuk, ngantuk, dan pasti main handphone karena wifinya kenceng. Dan hal itu direpetisi setiap hari kecuali Selasa dan Kamis karena mesti ke rumah sakit, atau kadang Rabu dan Jumat kalau ada jadwal bimbingan, tapi itu juga ga lama cuma 30 menit buat bimbingan namun bingung setelahnya bisa sampai 30 hari, bhaq.

Sejujurnya ku senang dengan repetisi kehidupan seperti ini. Berkutat di jurnal, penelitian, perpustakaan, menemukan insight baru tentang ilmu pengetahuan, belajar, sambil ngafe juga, ya aku senang. Akhirnya ada aktivitas lain yang bisa membayar insomniaku daripada sekadar main handphone atau nonton drama. Tapi sepintas rasanya ingin 'sesuatu' yang lain.

Sesuatu itu adalah teman berbicara. Ya, its means bukan teman cewek-cewek yang pasti kalau ketemu gibahin orang, bhaq, ngga juga sih tapi ya maksudnya teman itu ya laki-laki. Ngga ada kali pertemanan lakik sama perempuan, eits jangan salah, ada kok, gimana niat masing-masing aja sih.

Okey, perjelas aja sih teman berbicara itu ya seseorang yang dekat yang tanpa perlu ngerasa ga enak karena dia punya agenda sendiri, but its mean hidupnya focus on me or my life will focus on him, kalau anak milenial bilangnya sih itu namanya 'pacar', haha. Kalau temen cewek kan pasti dia ada kehidupannya sendiri, ada circle sendiri, ada pacarnya juga yang mesti dia urusin, nah kalau pacar sendiri kan -okey pacar juga punya kehidupan sendiri yang mesti dia urusin- tapi ya pacar sih ga mesti ga enak kalau mau minta ditemenin lha emang pacar, kan? Aduh..ku belibet banget ya jelasinnya mungkin karena udah berabad kagak pacaran, *bhaq*

Tapi ini konteks di diri aku sih bukan mau punya pacar, tapi teman dekat yang mau serius yang kedepannya bisa jadi teman hidup, tsah.. Ya wajar pula sih usia segini masih pacar-pacaran kayak anak milenial udah lewat masanya. Bukan cuma haha hihi doang maunya ada teman diskusi apalagi saat getting stress a lot macam begini.

Meski ga nutup kemungkinan ya temen cewek juga bisa diajak diskusi tapi ya kesan lovey dovey-nya ga ada, haha. Jadi lo maunya apa sih, nno?! Haha, ga tahu, aku sih maunya dia, tapi ga tahu dia mau sama aku atau ngga, haha.. *miris*

Kembali ke laptop. Ya keadaan rasa sepintas ingin diperhatikan, ada yang kasih chat "Selamat pagi, semangat ya!", atau "Mau ngerjain skripsi, aku temenin." Hahah, klise maneh, nno, efek skripsi dan kehaluan jadi satu maunya yang aneh-aneh. Iya sih, udah 2x pas ngerjain KTI sekarang (hampir) Skripsi dilalui tanpa embel lovey dovey selesai selesai aja tuh. Iya sih iya, tapi .. ya aku denial mulu, karena lelah sok kuat.

Aku ingin ada teman diskusi ketika aku stagnan atau ga ada ide lalu dia mendengarkan keluhan aku tentang a sampai z, alih-alih bisa kasih insight meski disiplin ilmunya beda, siapa tahu pola pikirnya bisa melengkapi pola pikir aku yang idealis, ngotot, dan perfeksionis ini. Atau ya saat lagi ngetik-ngetik cantik (apaan sih, haha) dia ngelihatin terus pas ketahuan sama aku kalau dia ngeliatin, dia buang muka.
"Ngapain sih liatin?"
"Siapa yang liatin?!"
"Ngaku deh liatin aku kan?"
"Iya iya aku liatin kamu, soalnya kamu gemes banget kalau lagi mikir."
Ahhhhhhh.. Gilak kan level kehaluan aku, mau ada yang kayak gitu, huaaaaa...
Okey ini akibat kebanyakan baca fanfiction dan au ketimbang baca jurnal, maafkan padahal cita-cita ingin jadi ilmuan bukan pengarang novel, hiks.

Lanjut, ga cuma soal lovey dovey aja sih, ya balik lagi mau ada teman cerita yang ga perlu keganggu dan timbul rasa ga enak. Disaat suntuk ga ada ide, diajak jalan, nonton, atau sekadar ngafe ngomongin kehidupan atau politik apakah doi kubu lanjut atau ganti (haha, apaan sih).
Jadi gimana ya, sepintas rasanya ingin ada yang begitu. Tapi denial pasti selalu bilang bahwa bisa sendiri, okey ini mungkin karena kesepian dan sering ngalor ngidul by myself.

Ini tulisan watir dan miris gimana gitu ya, haha. Ya ga juga sih ini kan sepintas, kadang banyak pintasnya terlalu sibuk juga nanti lupa lagi. Dan terus saja berputar seperti itu. Namun ya mau bagaimana pun tetap harus selesai dan ga boleh molor lagi. Okey, mungkin di skripsi ini, ga ada, siapa tahu di tesis nanti ada yang begitu, di desertasi malah lebih lovey dovey lagi karena ditemenin suami, aamiin ya Allah.

Hahaha. That's all. Anggap aja ini intermezo dari ribetnya complex sample dan kangen sama kamu, ya kamu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...