Sendu dan dingin sudah menjadi teman keseharian jika kesunyian di malam hari telah menyergap
Beribu-ribu keinginan fantasi menelisik masuk dalam jeruji ketahanan diri
Siapa yang tak tergoda meski itu hanya sementara dan bahkan mungkin hanya sekedar ilusi
Hingga akhirnya menyadari bahwa itu hanya khayalan..
Rengkuhku letih didera sesaknya kenyataan
Mengapa segalanya tak bisa saja begitu mudah
Mengapa segalanya perlu digapai dengan susah meski payah
Atau memang ketahanan diri yang tak sanggup menerima
Atau jiwa yang rindu akan pencapaian atas segala jerih, untuk kali ini tidak payah
Ceracauku mengudara
Beragumentasi menyalahkan luar meski dalam pun amburadul
Perlu ada yang disalahkan, bermain seakan menjadi korban, padahal ini hanya pengalihan atas ketidakmampuan diri, lagi lagi soal kenyataan
Ah.. apa kenyataan itu?
Ah.. siapa yang membuat kenyataan itu?
Itu bukan kenyataan buatku, namun bukan pula ilusi buatku.
Lantas apa?
Tanyaku pada udara, namun dia hanya memberikan dingin.
Lantas ku bertanya pada air yang nampak diam di tepian danau.
Ah dia bahkan lebih dingin dari udara.
Aku pun bertanya pada dudukan semen yang dibuat menyerupai kursi, tempatku duduk sekarang
Namun, dia terdiam seribu sejuta sepuluh juta semilyar bahasa
Ku berhenti untuk bertanya, berhenti untuk mencari tahu apa sebenarnya itu.
Payah.
Baru segitu saja sudah payah.
Iya, aku memang payah dan mudah lelah.
Bagaimana ini menjadi nyataku atas segala hal yang telah ku lakukan?
Mengapa kenyataan ini menamparku begitu kuat hingga membuatku berdarah-darah menangis untuk memohon agar jangan ini yang menjadi nyataku.
Ah sial, apa aku tampar balik saja?
Enak saja serta merta memberikan kenyataan seperti ini kepadaku.
Mana bisa aku terima?
Mana mungkin aku diam saja?
Mana mungkin aku ...
Ya, mana mungkin a..
Bahkan meneruskan kata-kata saja tak sanggup
Lalu ingin menampar balik?
Hah, mana ada kekuatan untuk seperti itu.
Untuk sekedar berdiri dan menegakkan kepala saja tidak mampu.
Sungguh amat teramat payah.
Sudahlah terima saja.
Biasanya juga menerima, menjalani, seperti tidak terjadi apa-apa.
Ini bisa saja diterima, tapi apakah akan sanggup menanggungnya?
Akan sanggup berjalan bahkan menegakkan kepala setelahnya?
Seakan kuat padahal ini sudah batasnya dan kenyataan mengerikan malah menjadi penutup untuk batas ini.
Sudah ku coba tandai bahwa didepan adalah akhir jerih dan payah ini,
Tetapi kerja belum selesai, belum bisa mengubah khayalan ini menjadi nyata yang diinginkan.
Padahal sudah tak tersisa lagi tenaga bahkan untuk sekedar mengangkat kepala yang sudah tanggung menunduk, bibir telah digigit begitu dalam hingga rasa darah terkecap dilidahku.
Aku melihat hujan rintik menetes sedikit demi sedikit pada kakiku, meski sebenarnya tak lagi bisa ku melihat dengan begitu jelas karena terlalu banyak genangan.
Sudah, sudah..
Ku seka darah pada bibirku, ku seka mataku
Lalu dengan sisa yang aku miliki, aku angkat kepalaku perlahan.
Dengan suara yang bergetar ku mencoba menahan diri, lalu aku sunggingkan senyum di bibirku, dan ku berkata, "Baiklah.."
Kemudian ku seret kakiku untuk bergerak meski terseok, hingga ku bisa terlepas dahulu dari kenyataan itu, bukan untuk melarikan diri, bukan untuk mencari jalan pintas yang efeknya seakan mengobati namun malah justru melukai semakin dalam.
Tidak, bukan seperti itu.
Hanya saja ingin merebahkan diri dan larut dalam segala kesedihan hebat yang telah memporak-porandakan dinding ketahanan diri ini.
Biar saja ku ingin berada dan terjebak dalam perangkat khayalan ini, hingga mungkin nanti benar-benar dengan sepenuh hati aku terima tamparan kenyataan ini menjadi bagian dari diriku yang selalu berteman dengan kesenduan dan rasa dingin.
Beribu-ribu keinginan fantasi menelisik masuk dalam jeruji ketahanan diri
Siapa yang tak tergoda meski itu hanya sementara dan bahkan mungkin hanya sekedar ilusi
Hingga akhirnya menyadari bahwa itu hanya khayalan..
Rengkuhku letih didera sesaknya kenyataan
Mengapa segalanya tak bisa saja begitu mudah
Mengapa segalanya perlu digapai dengan susah meski payah
Atau memang ketahanan diri yang tak sanggup menerima
Atau jiwa yang rindu akan pencapaian atas segala jerih, untuk kali ini tidak payah
Ceracauku mengudara
Beragumentasi menyalahkan luar meski dalam pun amburadul
Perlu ada yang disalahkan, bermain seakan menjadi korban, padahal ini hanya pengalihan atas ketidakmampuan diri, lagi lagi soal kenyataan
Ah.. apa kenyataan itu?
Ah.. siapa yang membuat kenyataan itu?
Itu bukan kenyataan buatku, namun bukan pula ilusi buatku.
Lantas apa?
Tanyaku pada udara, namun dia hanya memberikan dingin.
Lantas ku bertanya pada air yang nampak diam di tepian danau.
Ah dia bahkan lebih dingin dari udara.
Aku pun bertanya pada dudukan semen yang dibuat menyerupai kursi, tempatku duduk sekarang
Namun, dia terdiam seribu sejuta sepuluh juta semilyar bahasa
Ku berhenti untuk bertanya, berhenti untuk mencari tahu apa sebenarnya itu.
Payah.
Baru segitu saja sudah payah.
Iya, aku memang payah dan mudah lelah.
Bagaimana ini menjadi nyataku atas segala hal yang telah ku lakukan?
Mengapa kenyataan ini menamparku begitu kuat hingga membuatku berdarah-darah menangis untuk memohon agar jangan ini yang menjadi nyataku.
Ah sial, apa aku tampar balik saja?
Enak saja serta merta memberikan kenyataan seperti ini kepadaku.
Mana bisa aku terima?
Mana mungkin aku diam saja?
Mana mungkin aku ...
Ya, mana mungkin a..
Bahkan meneruskan kata-kata saja tak sanggup
Lalu ingin menampar balik?
Hah, mana ada kekuatan untuk seperti itu.
Untuk sekedar berdiri dan menegakkan kepala saja tidak mampu.
Sungguh amat teramat payah.
Sudahlah terima saja.
Biasanya juga menerima, menjalani, seperti tidak terjadi apa-apa.
Ini bisa saja diterima, tapi apakah akan sanggup menanggungnya?
Akan sanggup berjalan bahkan menegakkan kepala setelahnya?
Seakan kuat padahal ini sudah batasnya dan kenyataan mengerikan malah menjadi penutup untuk batas ini.
Sudah ku coba tandai bahwa didepan adalah akhir jerih dan payah ini,
Tetapi kerja belum selesai, belum bisa mengubah khayalan ini menjadi nyata yang diinginkan.
Padahal sudah tak tersisa lagi tenaga bahkan untuk sekedar mengangkat kepala yang sudah tanggung menunduk, bibir telah digigit begitu dalam hingga rasa darah terkecap dilidahku.
Aku melihat hujan rintik menetes sedikit demi sedikit pada kakiku, meski sebenarnya tak lagi bisa ku melihat dengan begitu jelas karena terlalu banyak genangan.
Sudah, sudah..
Ku seka darah pada bibirku, ku seka mataku
Lalu dengan sisa yang aku miliki, aku angkat kepalaku perlahan.
Dengan suara yang bergetar ku mencoba menahan diri, lalu aku sunggingkan senyum di bibirku, dan ku berkata, "Baiklah.."
Kemudian ku seret kakiku untuk bergerak meski terseok, hingga ku bisa terlepas dahulu dari kenyataan itu, bukan untuk melarikan diri, bukan untuk mencari jalan pintas yang efeknya seakan mengobati namun malah justru melukai semakin dalam.
Tidak, bukan seperti itu.
Hanya saja ingin merebahkan diri dan larut dalam segala kesedihan hebat yang telah memporak-porandakan dinding ketahanan diri ini.
Biar saja ku ingin berada dan terjebak dalam perangkat khayalan ini, hingga mungkin nanti benar-benar dengan sepenuh hati aku terima tamparan kenyataan ini menjadi bagian dari diriku yang selalu berteman dengan kesenduan dan rasa dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar