Entah perasaan apa
yang bisa dideskripsikan hari ini
Iri, marah, sedih,
senang, bercampur dalam rasa yang tak menentu seperti ini
Apa karena titik
pencapaian yang terlalu tinggi, hingga merasa sangat marah saat diri belum
mencapai pada titik tersebut?
Apa karena merasa
didahului, hingga iri saat orang lain mencapai finish
lebih dahulu?
Apa karena begitu
merasa paling menderita daripada orang lain, hingga merasa sedih, merasa paling
nestapa sealam semesta?
Apa karena begitu
kagum dengan pencapaian yang belum teruji, hingga senang terlalu dini membuat
lupa diri?
Lalu sebenarnya
perasaan apa yang dirasakan saat ini seharusnya?
Absurd membuat buram
dalam tindakan
Pembiaran hanya
mencari pembenaran yang tak akan abadi
Masih berdiri di
langit yang sama, masih berpijak di bumi
yang sama, lantas mengapa harus timbul rasa marah saat memiliki standar
yang begitu tinggi dalam pencapaian?
Mengerahkan dan
memporsir diri terlalu keras bukankah itu adalah perjuangan?
Lantas mengapa harus
marah saat semua tak sejalan dengan prediksi perjuangan yang telah dilontarkan,
itu pertanda bahwa perjuangan belum sampai pada titik yang begitu tinggi
seperti yang telah diprediksikan
Melambung,
melambunglah layaknya bola bounce yang
semakin tinggi apabila semakin dijatuhkan ke dasar bumi. Mengangkasalah hingga
bintang dapat di raih.
Belum dinamakan
garis finish jika belum dinyatakan mati
oleh Tuhan
Setiap kisah akan
ada bab dari bab pertama dan selanjutnya
Itu bukan akhir, itu
hanyalah pergantian menuju bab yang baru, bab yang lebih sulit, bab yang akan
semakin mendewasakan diri
Orang lain lebih
dulu, jika timbul iri adalah hal yang manusiawi
Selama diri masih
beranggapan sebagai manusia, iri adalah wajar
Namun apakah akan
terus meratapi dan sebagai penonton
Mereka yang lebih
dulu belum ada jaminan untuk meraih sukses lebih dulu,
Mereka yang
sepertinya telah finish lebih dulu bukan
berarti dia pemenang,
Didahului setidaknya
membuat diri dapat melihat lebih banyak dibanding yang lebih dulu, memiliki
banyak waktu untuk memperbaiki dan terus berlatih agar sampai pada pencapaian.
Tak ada yang tak mungkin bagi mereka yang mau berusaha.
Awan hitam terus
mengikuti kemanapun pergi, beranjak lalu hujanpun turun membasahi, petir
menyambar kala hujan semakin deras
Hidup begitu
nestapa, tak ada sinar matahari, hanya mendung dan kelabu yang menghampiri.
Tapi apakah hanya diri saja yang mengalami hal tersebut?
Lihat sekeliling,
menunduklah. Menengadah hanya akan membuat sakit ruas leher.
Terlalu dini untuk
tertawa pada hal yang belum pasti
Terlalu mendewakan
karya malah akan membuat diri semakin sombong
Ini adalah akar.
Akar dari semua rasa absurd ini adalah karena terlalu hanyut akan pujian di
masa lalu, lengah akan kesenangan sesaat yang malah berakhir tragis dalam
hilangnya posisi yang diraih.
Semua layaknya laut
yang memiliki pasang dan surut, namun bukan bagaimana mengikuti arus laut,
tetapi bagaimana dapat mengendalikan ombak, tak terperdaya, tak goyah, dan
tetap terus merangkai mimpi meski jalan tak selalu mudah.
Rasa itu anggap saja
metafora dalam sebuah kegamangan rasa tertinggal.
Tak perlu risau yang
berlebih.
Tetap menatap mimpi
yang telah dirancang sedemikian rupa.
Gagal bukanlah
sarana menyalahkan diri.
Gagal adalah tempat
yang mendekatkan diri pada rasa semangat.
Orang yang tak
pernah gagal, bukanlah orang yang hebat, tetapi mereka adalah orang malang yang
tak benar-benar merasa bagaimana hebatnya sebuah semangat perjuangan.
Anggap saja tulisan
ini sebuah distraksi.
Distraksi untuk
tetap bermimpi.
typo ~> "Distraksi untuk tetap bermimpi."
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus