Senin, 08 Oktober 2018

Sengaja Terluka


"Melupakan adalah seni untuk mengingat"
Ya, seseorang pernah mengatakan hal itu kepadaku.
Dan kusengajai diriku untuk melupakan agar ku selalu mengingatnya.
Mengingat betapa bodohnya ku menyia-nyiakan dirinya dulu.
Yang kini ku amat sesali.

Entah dari mana ini bermula dan berawalnya, tak pernah ku tahu.
Yang ku ingat ini hanya karena affection yang mungkin tanpa maksud apapun, tapi mengapa begitu berbekas dan mendalam.
Sejak saat itu rasa cemas selalu menghantui di tengah malam.
Rasa rindu mulai menghasut pikiran, mencoba meraih handphone, mencari namanya di kolom chatting, lalu seketika ingin mengetik, "Malam.."
Ah.. Ini sudah gila, batinku. Ku hapus itu semua. Ku lempar handphone-ku ke bantal.
Jangan gila. Jangan sampai melakukan itu. Ku tegaskan diri ini berulang kali.

Ku hela nafas panjang. Ku berfikir bahwa ini mungkin hanya perasaan sesaat.
Perasaan karena didera rasa sepi dan bersalah secara bersamaan.
Ku yakini ini berulang-ulang agar terpatri dalam ingatan.
Tetapi makin lama justru makin bergejolak.
Entah darimana datangnya, padahal berkomunikasi sudah amat jarang bahkan tak pernah dilakukan. Bertemu pun sudah tidak pernah terjadi.
Lalu mengapa bayang-bayang dia selalu ada, seakan memori indah yang singkat itu menyapa kembali dan meminta untuk diulang.
Aku sudah tidak punya kendali pada perasaanku sendiri.

"Ungkapkanlah, nyatakanlah."
Tetiba ide gila itu merasuk.
Gila! Ku memaki diriku sendiri. Cari mati!
Untuk apa, untuk apa melakukannya.
Bagaimana jika dia telah bahagia menjalani kehidupannya sekarang tanpa bayang diriku lagi.
Bagaimana jika dia telah memiliki seseorang yang tak akan melukainya seperti yang pernah ku lakukan.
Bagaimana jika dia telah menata hatinya untuk benar-benar melupakanku.
Lalu bagaimana dengan aku? Sungguh rasa ini sudah dipuncak kegilaan.
Ya, ini adalah hukuman , maka rasakanlah!

Sial! Sial! Ya, aku pantas mendapatkannya.
Jadi ku sengaja membuat diriku sendiri terluka.
Terluka akan pahitnya menahan rindu yang tak pernah bisa diungkapkan.
Terluka akan getirnya hati yang meraung ingin berkata cinta.
Terluka akan sedihnya rasa bersalah yang merasa tak pantas untuk dimaafkan.

Jika saja ada kesempatan untuk mengungkapkannya.
Ah..jangan pernah berpikir seperti itu.
Biar saja, biarkanlah ini sebagai penebus dosa.
Yang bahkan tidak ada apa-apa dibanding sakit yang dia rasakan dulu.
Dia pantas bahagia, atau mungkin dia telah bahagia dan sudahlah jangan mengungkit dan kembali ke kehidupannya.
Jangan tawar hatinya lagi.
Jangan menggoyahkannya lagi.
Jangan membuatnya terluka lagi.
Sudah diri ini saja yang sengaja terluka.
Karena kesempatan itu sudah tak ada lagi.
Cinta sudah lewat.
Dan sudah menjadi sejarah.
Yang tak kan pernah terulang lagi.
Sebab sudah tak ada lagi ruang untukku didirinya.

"...karena hal yang paling menyakitkan adalah dilupakan oleh seseorang yang tidak bisa kita lupakan.."


Rabu, 05 September 2018

Gadis 21 Tahun


Berdiri dititian tanah berwarna merah, sepatuku saat itu mulai lengket oleh tanah itu
Sepertinya kemarin baru saja turun hujan, sisa basahnya di tanah membuat siapa saja yang menginjaknya akan ikut serta dengannya
Sambil memerhatikan tanah di sepatuku, aku pun melihat sebuah lubang yang akan menempatkannya disana
Sebuah lubang menuju keabadian, yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah, begitu yang sering ku dengar saat masih di bangku sekolah dasar

Ku lihat dia dibalut kain putih dan ditempatkan didasar lubang tersebut
Dia yang tahun ini seharusnya berusia 21 tahun
Di usia itu seorang gadis sedang jatuh cintanya pada lawan jenis, mulai memakai make up, bergaya dengan dress masa kini, berceloteh riang dengan teman sebayanya membahas tugas kuliah, lelaki yang tampan, atau parfum apa ya yang enak untuk dipakai
Tetapi dia tak pernah melakukannya, dia tak bisa melakukannya
Dia terlahir berbeda
Tentu saja bukan inginnya seperti itu

Dia tak bisa berbicara dan berjalan
Dia hanya terbaring di ranjangnya selama 21 tahun
Sesekali dia beranjak dan didudukan diatas kursi rotan untuk berjemur di matahari pagi, tetapi semakin bertambah usianya, dia tak bisa melakukannya, sebab badannya terlalu berat untuk diangkat dari kasur menuju kursi.
Alhasil, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbaring

Meski begitu, dia sama seperti gadis lainnya
Dia senang mendengarkan lagu, menonton drama, dan selalu tertawa serta tersenyum saat memamerkan baju baru yang dia kenakan
Pernah dia mengatakan padaku dengan bahasa isyarat bahwa dia sedang memakai baju bagus, dia tertawa saat menceritakannya
"Wah..cantik sekali bajunya, buat aku ya.."Godaku. Dia memasang wajah cemberut seolah berkata, "Tidak boleh, ini bajuku."
Aku senang menggodanya, aku senang memegang kulitnya yang halus seperti bayi dan putih kuning langsat. Aku iri karena kulitnya putih, aku pernah menggodanya untuk bertukar kulit, dan kami pun tertawa…

Dia tahu apa yang diucapkan yang lain
Dia pun dapat menangis saat sedih
Dia pun dapat tertawa dan tersenyum saat bahagia
Dia pun menangis saat ibundanya 3 tahun silam meninggal karena sakit
17 tahun ibundanya menjaganya, menyuapi setiap hari, mengganti pakaiannya, menyisiri rambutnya, dan berada disampingnya siang dan malam tanpa lelah
Hingga suatu hari dia didera sakit parah, hingga dia tak mampu lagi menjaga anak gadisnya, dan Tuhan mengambil nyawanya ditengah dia berjuang agar sembuh
Ibundanya telah tiada, dia sedih bukan main, dia tidak bisa berkata, "Ibu..jangan tinggalkan aku, Ibu, mengapa pergi.." Dia tak bisa mengatakannya. Sesak rasanya ingin berteriak tetapi tak bisa. 
Kehilangan yang amat sangat.

Selama 3 tahun ini dia kesepian, berbaring di kasurnya menatap drama di televisi dengan tatapan kosong
Dia rindu ibundanya yang selalu berada disampingnya
Dia hanya diam dan tak bisa berkata apa-apa, jika dia rindu ibundanya, dia tak bisa berlari menuju makam ibundanya, dia hanya tertegun dan terdiam
Masa berat itu dia lalui sendiri  tanpa bisa dia bagi, hingga akhirnya dia jatuh sakit
Dia tak mau makan
Dia menolak untuk minum
Hingga rasa sakit yang terungkapkan itu tak lagi bisa dia tahan

Nafas mulai tersengal-sengal rasanya
Samar, dia melihat sinar yang terang..
"Ibu.." ucapnya. Dia kaget, mengapa dia bisa berkata demikian, mengapa dia bisa berbicara.
"Ibu.." Dia ulangi kata tersebut, berusaha meyakinkan dua hal. Hal pertama yang dia lihat apakah benar ibundanya. Hal kedua, apa benar dia bisa berbicara.
Dia mengucek-ngucek matanya, itu benar ibu.
Seorang wanita didepannya tersenyum, dan mengulurkan tangannya.
Dia sangat senang, dan meraih tangan ibundanya, dia beranjak dari kasurnya dan kakinya bisa berdiri, dia terkaget bukan main.
Dia dapat berdiri. Kakinya dapat merasakan dinginnya lantai.
Dia dapat berjalan. Wajahnya memasang wajah takjub bukan main.
Kini dia dapat berjalan dan berbicara.
Dia berjalan mengikuti ibundanya.
Lalu dia menoleh ke belakang, dia melihat wajahnya sendiri yang terbaring menutup mata di atas kasurnya.
Orang-orang berkumpul duduk mengelilingi dengan iringan isak dan tangis.
Sepersekian detik dia tertegun,  dia lalu menatap ibundanya yang masih tersenyum
Dia mengikuti ibundanya, berjalan menuju cahaya yang terang
Terang..
Dan bersinar..

Gadis 21 tahun ini pun telah tiada, dia telah pergi menyusul ibundanya
Gadis 21 tahun ini tak pernah merasa bahagia seperti gadis 21 tahun lainnya
Tetapi kini, dia bersama ibundanya yang jauh membahagiakan baginya
Surga menantinya, dia bisa berjalan, berlari dan berbincang atau perlu dia bisa bersenandung dengan lagu kesukaannya
Dunia ini terlalu asing baginya dan aku harap dia selalu bahagia disana

Selamat jalan..
Sampai jumpa..

Subang, Mei 2017

Minggu, 12 Agustus 2018

Untold Story : Sendiri dan Luka



Seorang anak perempuan berusia 8 tahun itu terduduk menatap kaca ruang tamu rumahnya. Dia menatap punggung teman-temannya yang datang ke rumah untuk mengajaknya bermain namun ibunya mengatakan bahwa dia sedang tidur siang dan tidak bisa ikut bermain. Dia tidak tidur siang, bahkan dia sulit untuk tidur. Ibunya hanya tidak suka dia pergi keluar. Banyak alasannya, karena takut kotor, panas, dan terbawa pergaulan yang tidak baik. Anak seusia itu biasa melontarkan ucapan kasar, melakukan lawakan menyebut nama orang tua, jajan diluar yang dinilai tidak bersih dan banyak kuman. Itu kata ibunya. Hingga dia hanya bisa diam dirumah, keluar pun hanya sekedar sekolah. Ya, itu saja. Berdiam di kastil dengan berbagai lapis pintu besi. Ibunya selalu berkata, “Diluar sana berbahaya, di rumah adalah tempat paling aman. Kamu mau apa? Nanti ibu belikan, asal kamu diam di rumah saja, ya.” Rayuannya saat itu. Ditepati? Ah..tidak.  Dia hanya membaca buku-buku pelajaran sekolah, sesekali iseng membaca buku-buku pelajaran kakaknya yang berada 6 tingkat sekolah dengannya. Saat dia kelas 4 SD, kakaknya sudah SMA kelas 1. Mainan pun adalah mainan unisex yang bisa dimainkan baik oleh anak pria maupun anak perempuan. Ah..dia memiliki mainan perempuan seperti boneka Barbie, alat-alat untuk bermain masak-masakan, dan beberapa boneka lainnya pemberian dari neneknya. Dia mainkan itu sendiri. Dia sering berbicara sendiri, membuat cerita dengan boneka-bonekanya, berdialog dengan boneka barbienya, dan banyak hal yang dia lakukan sendiri.

Terbiasa seperti itu membuat dia nyaman dengan hal itu. Dia benar larut akan dunianya dan buku-buku yang setia menemaninya. Dia bosan di rumah dan hanya diperintah untuk belajar dan hanya belajar. Dia tak bisa melakukan apapun kecuali belajar. Bahkan menyapu rumah saja dia tidak bisa. Hingga dia akhirnya telah menyelesaikan seluruh soal yang berada di buku paket sekolahnya. Dari kelas 1 SD hingga saat itu dia selalu ranking 1. Duduk didepan sendirian, tanpa ada yang menemani. Menjadi anak kesayangan guru. Dia tidak suka bermain saat jam istirahat dengan temannya. Dia sudah biasa dan nyaman sendiri, dia lebih senang ke perpustakaan dan membaca buku. Dia pun tidak jajan di kantin sekolah. Ibunya sudah membawakan dia bekal untuk dimakan saat jam istirahat. Dia tidak menyenangkan untuk diajak berteman. 

Pada suatu hari salah seorang temannya kehausan karena telah jajan makanan pedas. Dia yang sedang asyik membaca buku di bangkunya kaget ketika temannya yang sedang kehausan itu mengambil botol minumannya dan meminumnya tanpa izin dulu padanya. Dia menatap tidak nyaman dan kesal pada temannya. Lalu temannya sadar, “Eh..maaf soalnya kepedesan.” Dia tersenyum palsu dan berkata, “Ambil saja semua sama botolnya.” Dan pergi keluar bersama bukunya. Dia tidak melihat ekspresi temannya kala itu. Dia pun tidak peduli. Dia tak akan mau meminum botol itu. Sudah tercemari oleh ludah temannya. Bagaimana jika itu ada kumannya, bagaimana kalau dia sakit setelah meminumnya. Menyebalkan, pikirnya saat itu. Karena sifatnya yang seperti itu dia benar-benar tak memiliki teman.

Hari pertama dia duduk di kelas 5. Dia duduk dibangku depan karena bangku depan adalah bangku yang jarang dipilih karena dekat dengan guru. Namun dia senang duduk didepan, dia tidak akan terganggu dengan berisiknya teman-temannya yang mengobrol saat guru sedang menjelaskan. Lalu saat dia tengah mengeluarkan buku-bukunya, beberapa temannya menghampiri, salah seorang bahkan duduk disamping.  

“Eh..kemarin ranking 1 lagi, ya.. Hebat selalu ranking satu.” Ucap yang duduk disebelahnya. “Hebat ya, nyogoknya.” Mendengar ucapan itu, dia merasa tersinggung.

“Nyogok apaan?!” Dia masih mengatur nada bicaranya, dia tidak mau terpancing.

“Ah..udah ngaku aja pasti nyogok kan, aku selalu lihat ibu kamu ke ruang guru bawa-bawa makanan, pasti nyogok biar kamu ranking 1.” Ucap yang berada didepan mejanya.

“Nggak, itu ngasih karena mau ucapin makasih aja. Lagipula itu ngasihnya kan udah dibagiin raport.” Dia tak menatap mata teman-temannya, dia berbicara dengan sambil menata buku-buku di mejanya.

“Kalau lagi ngomong tuh lihat orangnya dong.” Yang duduk disebelahnya, melempar bukunya. Dia kaget setengah mati. “Sok banget sih, mentang-mentang pinter, ga punya temen juga, kasihan.”

“Ini mau ngapain sih?” Dia lalu berdiri mau mengambil buku yang telah dilempar temannya. Namun saat berdiri, teman yang berdiri didepannya memegang pundaknya dan menyuruh dia untuk duduk lagi.

“Eh..teman aku yang disebelah belum selesai ngomong, katanya ranking 1 ga punya sopan santun banget.” 

Mereka ada 4 orang. Satu orang duduk disebelahnya, mungkin dia ketua gengnya, dan sisanya berdiri didepan mejanya. 

“Siniin.” Yang duduk disebelahnya seperti meminta sesuatu dengan kode kepada salah satu temannya yang berdiri. Lalu temannya mengeluarkan sebuah botol minuman dan memberikan pada yang duduk sebelahnya. Ditariklah tas dari genggamannya. 

“Eh.. mau apa?” Dia mulai berteriak karena tasnya telah direbut. Dia tahu ada teman-temannya lainnya dikelas tapi mereka pura-pura tidak mendengar seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ini buat anak yang sok kayak kamu. Udah pinter, belagu, ga mau kasih contekan, nyogok lagi.” Dia menuangkan air dibotol itu ke tas dia. Dia ingin memberontak tapi sisa 3 teman lainnya menggenggam tangan dan badannya. Dia memberontak namun karena kalah tenaga, dia tersungkur ke lantai. 

Semua yang dia taruh di meja dimasukan ke tas yang kini sudah berisi air dan membawanya ke dekat jendela. Dia bangkit dan berusaha meraih tasnya. Matanya sudah mulai berair namun masih bisa dia tahan. 

“Siniin ih.. Siniin!!” Teriaknya. Lagi-lagi karena kalah orang, dia tak berkutik. Lalu temannya itu membuang tasnya keluar jendela. Dia berteriak saat melihat isi tasnya berhamburan semua dan terlempar ke tanah. Mereka semua tertawa lepas seakan sebuah kesenangan melakukan hal itu.

Dia menatap satu-satu dari 4 orang itu, lalu dia mengedarkan pandangan ke seluruh orang di kelasnya yang hanya sebagai penonton. 

“Mau apa? Mau ngadu? Kakak kamu juga masih sekolah. Kakak aku udah jadi tentara.”
“Kakak aku juga udah kerja, kalah sama kakak aku.”
“Mau ngadu ke orang tua, ya. Nanti disogok lagi lagi dong gurunya.”
“Nanti kita yang dihukum, takut!!” Dan 4 orang itu tertawa lepas lagi. 

Dia mendorong salah satunya dan pergi keluar. Dia menangis, dia tak lagi bisa menahannya. Baju seragam barunya pun sudah kotor karena terjatuh di lantai ubin kelas yang masih berubin hitam. Dia berlari, dia tak peduli beberapa orang melihatnya yang sedang menangis sejadinya dengan pakaian kotor. Dia lalu memungut satu-satu buku yang telah basah dan rusak. Dia mengeluarkan air dalam tasnya. Empat orang itu hanya melihat dibalik jendela, entah mereka berbicara apa, dia sudah tidak mau mendengarnya. Dia menyeka airmatanya dan meraih tasnya, lalu dia memutuskan tidak kembali ke kelas dan pulang saja. 

Sampai dirumah, Ibunya kaget melihat baju anaknya kotor dan isi tasnya basah dan kotor.

“Ini kenapa begini?”

“Jatoh, bu.” Dia masuk kerumah dan membuka bajunya menaruhnya di ember cucian.
“Kok bisa jatuh gitu? Jatuh dimana?”

“Di sekolah.” Dia tak mau menatap ibunya. Dia mengambil handuk dan mau pergi ke kamar mandi.

“Kenapa sih, coba lihat ibu kalau ibu lagi ngomong. Jatuh dimana, kenapa sampai basah, itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka macem-macem kamu tuh.” Ibunya menggenggam kedua lengannya dengan kuat.

“Sakit, bu. Jatuh ya jatuh.” Dia mau menangis lagi, dia menyesal karena pulang bukanlah solusi terbaik saat itu. Dia lalu lari ke kamar mandi. Dia nyalakan keran air dan menangis sejadinya. Dia menyalakan keran dengan air yang besar agar suara tangisannya tak terdengar keluar. Dia meringis perih saat melihat sikut dan lututnya terdapat luka goresan.  Sakit sekali rasanya padahal hanya luka goresan, mungkin terkena pinggiran bangku saat dia didorong temannya tadi. Tapi sakitnya hingga ke dada, sungguh sesak. Tak hanya sikut dan lututnya yang sakit, namun hatinya pun terluka. Dia tak ingin mendengar “kenapa sampai basah, itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka macem-macem kamu tuh”, dia hanya ingin mendengar, “Ada yang sakit? Mana yang sakit? Kamu ga apa-apa, kan?” dan memeluknya. Jika seperti itu mungkin tak akan sesakit itu rasanya.

Minggu, 13 Mei 2018

5.14 Senja Keajaiban

Langit ibukota yang kulalui mulai menguning, lambat-laun warnanya semakin pekat, tanda terik siang akan beralih pada pekatnya malam.
Ku langkah gontai menelusuri tangga stasiun, sesekali langkahku terhenti karena lututku terus gemetar.

Ku melihat bangku tunggu kereta sudah di duduki banyak orang, dan ku sudah pasti berdiri menunggu kereta datang, kaki ini sudah sangat kaku dan punggung pun sudah linu ingin rasanya segera bertemu kasur. Namun perjalanan masih jauh.
Ku tak tahan, hingga akhirnya ku duduk di lantai pinggir peron.
Rok biru mudaku jelas sudah kucel dan kotor, ku tak peduli, ku hanya ingin duduk.
Lalu ku rogoh tas ku, ku buka buku catatanku, terselip sebuah kartu nama.
Ku pandangi lekat-lekat kartu nama itu, dan seketika rasanya bola mataku dipenuhi oleh sesuatu yang basah.
"Ah..apa ini?" Tanya batinku.

Suara yang memberitahukan bahwa kereta tujuanku akan segera datang, ku bergegas berdiri. Namun serangan dari orang-orang yang tengah berburu waktu membuatku hilang posisi dan kereta lewat di depanku sudah sangat berdesakan.
Sudah jelas ku kalah dalam pertarungan desak-desakan itu, bertemu kasur akan menjadi semakin lama, tetapi gerbong kereta pun sudah sangat sesak.
Ku lewatkan kereta itu begitu saja.
Ku tak melanjutkan duduk di lantai dan berharap kereta tujuanku akan segera datang.
Hampir saja lupa, ada sebuah kartu nama yang tadi ku pegang.
Ku selipkan kedalam buku catatan yang ku taruh dalam tas.
Tak berapa lama keretanya tiba dan tidak terlalu berdesakan, meskipun tidak longgar juga, tapi setidaknya ku dapat masuk walaupun tak dapat tempat duduk.

Dinginnya Air Conditioner didalam kereta membuat wajahku yang berminyak menjadi kaku dan lututku masih gemetar. Ku pegang erat gantungan di kereta menjaga tubuh agar tidak oleng. Ku diam dan pikiranku pun lari pada kejadian beberapa jam lalu sebelumnya yang mungkin menjadi salah satu penyebab lututku terus bergemetar.

***

Hari itu aku memutuskan untuk produktif meski sedang akhir pekan untuk datang ke sebuah pameran pendidikan.
Ya, tidak memiliki tujuan jelas, hanya sekedar jalan-jalan dan semoga mendapat referensi untuk melanjutkan studi.
Tiba disana selepas tengah hari dan sedang waktu istirahat.
Ku menunggu sambil menyaksikan hiburan yang telah disediakan oleh panitia.
Pameran pun telah dibuka, ku menjelajah satu booth ke booth lainnya.
Bertanya-tanya hal standar seperti kapan ujian masuknya, soalnya apa saja, biaya, studi, dan sebagainya. Mengumpulkan berbagai brosur dan goodie bag.
Hingga sampailah di satu booth sebuah universitas terkemuka di dunia.
Seorang mbak-mbak menyapa aku terlebih dahulu dan ku ceritakan bahwa aku mencari program master, kalau bisa sekalian dengan beasiswanya.
Lalu mbak itu bertanya apa jurusanku, setelah ku jawab, dia langsung berkata bahwa Kepala Penelitian program studi yang aku tuju juga ada di booth tersebut.
Ku di kenalkan dan beliau begitu ramah tersenyum lebih dahulu padaku.

"Hello, What's your name?" Ucapnya.
"My name is Retno". Ku juga mengenalkan bahwa aku masih kuliah dan sedang mencari program studi lanjut master sekalian beasiswa sebab jika biaya sendiri baik aku maupun orang tuaku sudah tidak akan bisa menanggungnya.
Matanya sangat berbinar ketika mendengar penjelasanku mengapa aku ingin lanjut master, mengapa aku memilih program studi itu, dan apa tujuanku nanti.
"Do you have any research abt that? Or still working out?" Ucapnya.
"Ah.." Aku ingin menjawab iya, namun aku pun ragu sebab penelitian yang sedang aku tulis itu tak ku lanjutkan lagi, ku sudah hilang mood  dan semangat untuk melanjutkan.
Namun entah mengapa bibirku tiba-tiba berkata iya, dan jari jemari mencari folder itu dalam google drive-ku.
"But, I'm so sorry its still lacking and I don't finish yet."
"It's fine. "
Dia membaca dengan seksama abstrak dan poin-poin yang sudah aku tulis.
Ku gigit bibirku dan menyesali mengapa memperlihatkannya, itu masih kesana-kemari dan sebuah gagasan penelitian yang ditolak oleh kampusku, lalu ku berikan pada seorang Profesor yang jabatannya mungkin setingkat dekan jika dikampusku, ku mengutuk diriku sendiri bahkan untuk melihat wajah beliau saja aku sudah tak sanggup.
"Well.." Beliau memecah ceracau penyesalan dalam pikiranku.
"Woah, I never imagine it before."
"Hah? Ini maksudnya apa? Ah..tuhkan jelek, aduh kebodohan sekali sih, No." Batinku terus saja menyesali dan menyalahi keputusan ini.
"If you take this research to our univ, I'll be taking full of you."
"Full?"
"Yes, you will be part of our univ and everything is gonna be free." Dia mengatakannya dengan tersenyum, sementara jantungku rasanya berdetak 2x bahkan 3x lebih cepat.
Apa ini maksudnya, ini mimpi, ini maksudnya apa, dia berkata itu artinya apa. Seakan semua ceracau penyesalan tadi berubah menjadi ceracau kebingungan.
"Prof, it's real?" Ucapku bergetar namun ingin memastikan.
"Sure, absolutely. So, you fix this proposal and send to me. I'll be taking care of you, and you will be student of our univ and become my student. Oh, it's my name card. You can send your proposal to my email, I always check my email."
"Prof.."
"I'm very excited abt your reseach, it's new and unique, if you can take this into global case, I'm really sure you will be outstanding there. "
Makin bingung untuk berkata-kata. Gila. Ini gila. Bangun! Bangun! Ku cubit tanganku dan sakit. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Dia begitu yakin dan berkata bahwa aku akan outstanding disana setelah membaca abstrak yang telah ditolak di kampusku karena terlalu sedikit datanya, jarang, dan tidak populer. Namun, ini? Apa yang aku dapati sekarang? Oh, Tuhan, ini mengapa begini? Mengapa dan Kenapa?
Ini sudah sangat rollercoaster sekali. Baru saja ku menyesal, bingung, kini bahagia, namun bingung, terharu, sedih, bahagia, namun bingung. Ah..
Ku baca dan ku tatap lekat-lekat kartu nama itu.
"Prof, I'm very excited and thank you very much abt this chance. I'm totally speechless."
"It's ok. Don't forget GPA 3.5 above, ielts 6.5 above, and send your proposal."
"But prof, I'm taking long to graduate."
"When will? Next year? I'll be waiting for you. Just make sure prepare from now."
Lalu beliau menyerahkan sebuah formulir yang aku isi. Beliau pun ikut menandatangi formulir itu dan berkata bahwa kini beliau memiliki mahasiswa baru.
"See you in our univ, Retno." Beliau menyebut namaku, menjabat tanganku, dan tersenyum padaku, sangat ramah sekali.

Lemas.
Ku lemas.
Lututku bergetar.
Ini jelas bukan mimpi.
Mengapa?
Disaat ku sudah akan menyerah.
Merasa 'ah sudahlah mau sebanyak kamu berusaha semua akan percuma saja'
Merasa 'lelahmu hanya akan mendera kesakitan dan bukan kebahagiaan'
Tapi kini kenyataan apa yang aku hadapi ini.
Sungguh campur aduk rasanya.
Ini masih sangat awal, tetapi aku merasa sangat amat dihargai.
Aku tahu ini akan membuatku terlena, tetapi biarkan aku terlena meski ini masih sangat dini.
Ini masih belum apa-apa.

***

Ingatan itu terbawa hingga ku di kereta, lalu kini ku tak dapat lagi menahannya.
Air mata pun keluar begitu deras mengalir dari pelupuk mataku.
Ku menangis sejadinya, dan tersedu-sedu hingga seluruh gerbong melihatku.
Aku tak bisa menangis hanya dengan keluar airmata, entah mengapa jika ku menangis hebat, suarapun ikut keluar dari mulutku.
Seorang ibu bahkan sampai menepuk pundakku dan memberikan kursinya untukku.
Aku menolaknya dengan halus sambil menyeka air mataku.
Aku bukan sedih, aku hanya terlampau bahagia.

Selepas ku sampai di stasiun tujuanku, langit sudah makin kental dengan warna kuningnya. Senja ini membawa keajaiban tepat di jam 5.14pm saat itu.
Sebuah momen yang tak terduga, sebuah kebahagiaan yang ajaib, aku sungguh amat terlarut, aku terlena, dan terbuai.
Tetapi biarlah, biar hanya untuk hari ini, untuk senja yang indah itu.
Terimakasih untuk tidak menyerah meski ingin.
Terimakasih dan mari esoknya hadapi dunia kembali.
Terlena hanya untuk hari itu.
Sebab ini bukan apa-apa, ini baru saja dimulai.
Entah kenapa takdir akan membawa, setidaknya terimakasih, No, sudah selalu berusaha dan tak menyerah. Ku ulangi lagi. Terimakasih, No.
Dan tentu terimakasih Tuhan atas hari itu. Atas segala rencanaMu yang tak terduga.


Pada 5.14pm
Ditulis Bulan 5 Tanggal 14.

Selasa, 13 Maret 2018

Takut Bertemu Esok


Ada hal yang bergelayut di mataku setiap kali aku bangun tidur di pagi hari
Bukan hanya karena rasa kantuk masih membebani pelupuk mata, namun karena aku tahu hari ini aku masih bisa terbangun di pagi hari, masih melihat matahari terbit, dan menapaki diri bahwa ini adalah hari ini yang kemarin ku sebut  'esok'.

Kemarin aku begitu takut.
Sangat amat takut pada apa yang ku sebut 'esok'
Mengapa? Entahlah mungkin karena ku pun tak tahu apakah aku masih dapat melihat matahari terbit atau bahkan sekedar tertawa di hari esok.
Aku tak bisa memperkirakan apapun.
Setiap hari seperti itu, aku selalu merasa takut karena diriku hanya seperti ini saja.
Lantas untuk apa ada esok jika ku tak menjadi lebih baik dari kemarin.
Sehingga ku selalu berpikir jika begini saja terus atau malah menjadi lebih buruk, lebih baik hentikan saja aku pada hari itu, tak usahlah bertemu esok.

Setiap malam aku selalu takut.
Malam adalah peralihan untuk menjadi pagi.
Dan pagi adalah esok yang kemarin aku takutkan.
Karena selalu seperti itu, bahkan ketika badan lelah pun, pikiran ini masih mengudara memikirkan rasa takut ini, hingga berkali kalah dan malah terjaga hingga hari esok berubah menjadi hari ini.

Aku takut bertemu esok.
Aku takut menghadapi esok yang tak sesuai dengan keinginanku.
Aku takut menghadapi kenyataan di hari esok.
Meski ya ku tinggal menghadapinya saja, namun ku takut.
Sebenarnya ku hanya pecundang yang selalu meminta akhiri saja aku di hari ini.
Aku tak pantas diberi waktu sampai besok.
Tak dikabulkan hingga memilih jalan pendek.
Padahal seharusnya aku senang karena selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki.
Termakan rasa takut hingga akhirnya tak pernah menjadi lebih baik atau malah menjadi lebih buruk.

Ah sial kan, selalu saja ketika menuliskan hal pesimis, selalu ada kalimat optimisnya, dan malah sok menceramahi ujungnya.
Sudah begitu adanya, jadi tinggal dilakukan saja sekarang.
Bahwa kamu harus berhenti untuk takut dan jalani serta perbaiki atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan, jangan sia-siakan.
Sebab kamu tidak tahu saat dimana kamu ingin bertemu esok, namun ternyata waktumu hanya sampai hari ini.

Jumat, 09 Maret 2018

Terperangkap Khayalan, Ditampar Kenyataan

Sendu dan dingin sudah menjadi teman keseharian jika kesunyian di malam hari telah menyergap
Beribu-ribu keinginan fantasi menelisik masuk dalam jeruji ketahanan diri
Siapa yang tak tergoda meski itu hanya sementara dan bahkan mungkin hanya sekedar ilusi
Hingga akhirnya menyadari bahwa itu hanya khayalan..

Rengkuhku letih didera sesaknya kenyataan
Mengapa segalanya tak bisa saja begitu mudah
Mengapa segalanya perlu digapai dengan susah meski payah
Atau memang ketahanan diri yang tak sanggup menerima
Atau jiwa yang rindu akan pencapaian atas segala jerih, untuk kali ini tidak payah

Ceracauku mengudara
Beragumentasi menyalahkan luar meski dalam pun amburadul
Perlu ada yang disalahkan, bermain seakan menjadi korban, padahal ini hanya pengalihan atas ketidakmampuan diri, lagi lagi soal kenyataan
Ah.. apa kenyataan itu?
Ah.. siapa yang membuat kenyataan itu?
Itu bukan kenyataan buatku, namun bukan pula ilusi buatku.
Lantas apa?
Tanyaku pada udara, namun dia hanya memberikan dingin.
Lantas ku bertanya pada air yang nampak diam di tepian danau.
Ah dia bahkan lebih dingin dari udara.
Aku pun bertanya pada dudukan semen yang dibuat menyerupai kursi, tempatku duduk sekarang
Namun, dia terdiam seribu sejuta sepuluh juta semilyar bahasa
Ku berhenti untuk bertanya, berhenti untuk mencari tahu apa sebenarnya itu.

Payah.
Baru segitu saja sudah payah.
Iya, aku memang payah dan mudah lelah.
Bagaimana ini menjadi nyataku atas segala hal yang telah ku lakukan?
Mengapa kenyataan ini menamparku begitu kuat hingga membuatku berdarah-darah menangis untuk memohon agar jangan ini yang menjadi nyataku.
Ah sial, apa aku tampar balik saja?
Enak saja serta merta memberikan kenyataan seperti ini kepadaku.
Mana bisa aku terima?
Mana mungkin aku diam saja?
Mana mungkin aku ...
Ya, mana mungkin a..

Bahkan meneruskan kata-kata saja tak sanggup
Lalu ingin menampar balik?
Hah, mana ada kekuatan untuk seperti itu.
Untuk sekedar berdiri dan menegakkan kepala saja tidak mampu.
Sungguh amat teramat payah.
Sudahlah terima saja.
Biasanya juga menerima, menjalani, seperti tidak terjadi apa-apa.

Ini bisa saja diterima, tapi apakah akan sanggup menanggungnya?
Akan sanggup berjalan bahkan menegakkan kepala setelahnya?
Seakan kuat padahal ini sudah batasnya dan kenyataan mengerikan malah menjadi penutup untuk batas ini.
Sudah ku coba tandai bahwa didepan adalah akhir jerih dan payah ini,
Tetapi kerja belum selesai, belum bisa mengubah khayalan ini menjadi nyata yang diinginkan.
Padahal sudah tak tersisa lagi tenaga bahkan untuk sekedar mengangkat kepala yang sudah tanggung menunduk, bibir telah digigit begitu dalam hingga rasa darah terkecap dilidahku.
Aku melihat hujan rintik menetes sedikit demi sedikit pada kakiku, meski sebenarnya tak lagi bisa ku melihat dengan begitu jelas karena terlalu banyak genangan.

Sudah, sudah..
Ku seka darah pada bibirku, ku seka mataku
Lalu dengan sisa yang aku miliki, aku angkat kepalaku perlahan.
Dengan suara yang bergetar ku mencoba menahan diri, lalu aku sunggingkan senyum di bibirku, dan ku berkata, "Baiklah.."
Kemudian ku seret kakiku untuk bergerak meski terseok, hingga ku bisa terlepas dahulu dari kenyataan itu, bukan untuk melarikan diri, bukan untuk mencari jalan pintas yang efeknya seakan mengobati namun malah justru melukai semakin dalam.
Tidak, bukan seperti itu.
Hanya saja ingin merebahkan diri dan larut dalam segala kesedihan hebat yang telah memporak-porandakan dinding ketahanan diri ini.

Biar saja ku ingin berada dan terjebak dalam perangkat khayalan ini, hingga mungkin nanti benar-benar dengan sepenuh hati aku terima tamparan kenyataan ini menjadi bagian dari diriku yang selalu berteman dengan kesenduan dan rasa dingin.
 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...